Pengumpan:
Tulisan
Komentar

“Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya” (maaf,,aquw lupa kalimat ini kutipan siapa ya? Hehe…)

Senang bahkan kagum bisa mengenal sosok orang yang mempunyai kepribadian yang subhanallah “mantap” dengan cakupan ilmu yang luas dan prestasi yang salut ^_^. Setiap apa yang disampaikan selalu membuka hati dan fikir untuk berdzikir betapa Allah telah menncurahkan nikmat yang tiada terkira…Alhamdulillah

Terlebih ketika apa yang disampaikannya membuka pola fikir yang menggiring untuk lebih memahami setiap kejadian bahwa tidak ada hal yang luput untuk menjadi bahan pembelajaran.

Emmh..jadi ingat betapa banyak ayat Al-qur’an yang membahas mengenai hal ini, bahwa manusia harus selalu sadar diri.. salah satu ayat tersebut misalnya adalah: “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran” (Q.S 39:27)

“dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian” (Q.S 43:56)

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran” (Q.S 40:58)

“Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)” (Q.S 40:13)

Lantas, seberapa sadarkah diri kita dalam memaknai setiap tingkah polah, ataupun kejadian perdetik yang kita jalani setiap hari?

Berapa banyak buku yang kita baca? Berapa banyak pula makna yang bisa kita ambil dari buku tersebut? Sadarkah kita terhadap setiap kejadian yang menimpa? Bahwa akan selalu ada hikmat di balik semua

Terkadang, ilmu/ pengetahuan yang kita dapatkan baik itu dari buku ataupun pengalaman, hanya “mandeg” mengendap di dasar fikiran sebagai dogma atau wacana semata. Tidak ada tindak lanjut terhadapnya…hanya sebatas faham sebagai konsep tanpa menggali lebih dalam makna apa yang terkandung di dalamnya, bahkan mungkin tidak sampai terasakan hikmahnya…mungkin inilah gerangan yang disebut kekurangpekaan atau bahkan ketidakpekaan kita.

Kepekaan jiwa…mungkin inilah hal yang kurang ada pada diri kita, ilmu yang selama ini kita gali melalui pendekatan modern yang cenderung bicara fakta, kurang diimbangi dengan ilmu iman melalui pendekatan agama untuk membuka tabir makna. Kecenderungan berfikir logis kita mengikis aspek spiritual yang tidak selamanya bisa ditembus dengan kacamata logika

Semoga kita mendapatkan bimbingan-Nya dalam menjalani hidup dan kehidupan dalam proses menggali potensi diri, mempertajam pola fikir,mengasah kepekaan jiwa,,untuk meraih keridhaan-Nya. Semoga kita diberikan kekuatan untuk terus berusaha memposisikan diri sebagai seorang hamba Allah yang senantiasa bersyukur dan mentafakuri.. Amiin

Spektrum Masalah Guru

Emmh…Jadi seorang pengajar atau istilah formalnya menjadi seorang guru ternyata tidak sesimpel dan segampang difikirkan…yaaa, setidaknya yang aku pribadi rasakan sih seperti itu :)

Diukur dari peran idealis seorang guru yang selain sebagai pengajar, juga harus bisa menjadi seorang manajer dalam ruang lingkup kelas, seorang konselor yaitu pembimbing dalam menumbuhkan kepekaan terhadap suatu masalah yang muncul pada siswa, sebagai penilai dalam memberikan hasil dari usaha siswa ,serta sebagai anggota profesi guru.

Menjadi guru tidak hanya menggugurkan kewajiban profesi formal dalam menyampaikan materi kepada siswa di depan kelas, tetapi lebih dari itu  dituntut untuk menjadi seorang yang bisa memberikan inspirasi kepada siswa didiknya, misalnya dengan aplikasi pekerjaan rumah (PR) yang tidak sebatas dalam bentuk soal isian yang harus dikerjakan siswa di rumah, tetapi lebih luas PR dalam cakupan psikologis,yaitu bagaimana aplikasi pengetahuan terhadap kehidupan real mereka yang selanjutnya dapat kita diskusikan kembali di dalam kelas.

Begitu idealnya sosok yang digambarkan, hal ini tidak lepas dari permasalahan-permasalahan yang sering timbul dalam mewujudkan idealisme tersebut, diantaranya:
1) Motivasi Kerja, fokus pada masalah pribadinya masing-masing. Bagaimana bisa seorang guru yang salah satu perannya sebagai inspirator bisa memberikan inspirasi terhadap siswa didiknya jika dirinya sendiri tidak mempunyai motivasi yang kuat, karena inspirasi lahir dari motivasi yang kuat akan datangnya suatu wacana yang baru/ dianggap baru.

2) Kesejahteraan, bagaimanapun tidak dapat dipungkiri bahwa masalah materi tidak secara langsung dapat mempengaruhi motivasi kerja seseorang, dalam ruang lingkup peran dan profesi apapun…betul kan? :)

3) Kondisi kerja, kondisi kerja yang menyenangkan akan lebih kondusif untuk seseorang bekerja lebih baik untuk mencapai hasil yang diinginkan, walaupun standar menyenangkannya tersebut tidak ada…semua berpulang pada masing-masing individu.

4) Perlindungan hukum, rasa-rasanya kurang sekali adanya keterlibatan suatu LSM atau lembaga advokat yang memberikan sumbangsihnya dalam memperjuangkan guru dibandingkan memperjuangkan hal lain di kuar guru …iya gitu? :)

5) Sistem penghargaan, seberapa besarkah penghargaan peran profesionalisme guru dalam mendapatkan reward dalam berbagai bentuk seperti pengembangan karir dan lain-lain.

6) Daya dukung infrastruktur, kondisi sekolah yang tidak semua “mampu” sedikit banyak menghambat terciptanya proses kegiatan belajar mengajar yang ideal, sehingga menghambat pula hasil goal yang ideal untuk dicapai

Semoga peran guru dapat lebih direnungkan dan dimaknai kembali, terutama secara pribadi buat aku sendiri yang jauh dari idealisme yang dituliskan di atas, tapi setidaknya punya keinginan dan kesadaran untuk menjalani peran yang lebih baik.Amiin

~~Wallahu’alam~~

Wahai yang membolak-balikkan hati dan pandangan,

teguhkanlah selalu hatiku dalam agama-MU.

janganlah Kau gelincirkan hatiku setelah Kau beri petunjuk kepadaku

curahkanlah kepadaku kasih sayang-Mu.

Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Anugrah,

lindungilah aku dari api neraka.

Ya Allah, panjangkanlah usiaku, luaskanlah rezekiku,

taburkanlah padaku kasih sayang-Mu.

Jika aku pernah tertulis sebagai orang yang celaka,

masukkan aku kepada kelompok orang yang beruntung dan bahagia

karena Kau menghapus apa yang Kau kehendaki dan menetapkan apa yang Kau kehendaki,

semuanya Kau tulis dalam ummul kitab…

Seputar Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru merupakan program pemerintah yang notabene sebagai usaha untuk lebih meningkatkan profesionalitas para guru tersebut. lantas guru yang bagaimana yang diharapkan pemerintah setelah dilakukannya sertifikasi?

Berikut ini adalah kedudukan guru yang idealisnya diharapkan oleh semua pihak, terutama berkaitan dengan sertifikasi guru:

1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik

2. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memnuhi standar mutu

3. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran , untuk meningkatkan mutu pendidikan

4. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Seidealis apapun suatu konsep tidaklah berarti tanpa adanya implementasi yang mendukung ke arah itu, mudah-mudahan dengan adanya program sertifikasi guru ini, profil guru tidak hanya sebagai “budak kurikulum”, mudah-mudahan guru kita ke depan bisa lebih memaknai arti dari kata guru itu sendiri, tidak hanya menjadi seorang guru dengan  aktifitas rutin hanya sekedar menggugurkan kewajiban mengajar, tetapi lebih dari itu harus bisa memberikan manfaat dalam menciptaan generasi penerus yang berakhlakul karimah.

Dengan program sertifikasi ini juga diharapkan memberikan penghargaan yang lebih baik bagi prospek ke depan guru sebagai tenaga profesional, dalam arti pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sembarang orang, tetapi menjadi suatu peran yang tak tergantikan,, lebih penting lagi, mudah-mudahan program sertifikasi ini jauh dari muatan-muatan politik bagi kepentingan beberapa pihak.

Film Fitna yang selama ini lumayan menyedot perhatian publik, ternyata memberikan dampak yang positif bagi warga Belanda, baca dari sebuah situs info, ternyata setelah pemutaran film Fitna, masyarakat Belanda tanpa diduga malah mencari al-Quran digital yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.

Penayangan film Fitna ternyata berbalik dari tujuan sebelumnya dan masyarakat Amsterdam malah menyerbu berbagai perpustakaan yang memiliki buku-buku Islam, salah satunya adalah terjemahan digital al-Quran dalam bahasa Belanda. Animo besar masyarakat untuk membeli software al-Quran berbahasa Belanda berakibat sulitnya orang menemukan software terjemahan al-Quran berbahasa Belanda.

Membaca dari salah satu blog info yang mengutip dari situs Al-Muhith menulis, media-media Belanda memuji sikap damai kaum muslimin di negara ini, yang membuat simpati warga Belanda terhadap Islam dan hasilnya berbanding terbalik dengan yang diharapkan oleh Geert Wilders, sang pembuat film ini.
Kaum muslimin mengadakan Workshop tentang al-Quran yang dihadiri oleh para pemikir Belanda. Workshop yang dilakukan pada hari Jumat di pinggiran kota Amsterdam berhasil mencitrakan al-Quran sebagai buku ibadah dan hidayah dan apa yang disampaikan oleh Wilders itu sebagai kebohongan dan upaya menyimpangkan kebenaran.

Dalam workshop tersebut, salah seorang yang hadir secara terang-terangan menyatakan keislamannya dan mencatat namanya sebagai orang ketiga dalam sepekan yang memeluk Islam.

~~Wallahu’alam~~

Asa Di balik Sepiku

Aku terlalu na’if dalam memandang hidup,
terlalu polos  dalam menanggapi kenyataan yang ternyata tidak sesuci yang kusangka
haruskah idealisme melebur bersama pasir tertiup angin……………
lantas apa yang tersisa?
hanya rasa tak bermakna………..
hanya nyawa tak berjiwa…………..
remuk! meluruh!
 bagiku, kau adalah sisi terang yang hilang ketika kau meninggalkan jejak goresan di hati
 
Berkaca………….berkaca pada jejak yang ada,
merangkak bersama kegelisahan, kebingungan, dan keraguan
kucoba untuk tetap teguh, dengan harapan dalam jiwa,
kembalikan hatiku hanya untuk Allah saja 
 

Rasa Hatiku………..

Ada saatnya aku merasa kesal,,down,,sedih,,ga tau lagi harus b’buat apa
Ada saatnya aku merasa ditinggalkan…tak ada kawan untuk hanya sekedar dengar rasa hatiku…….
Ada saatnya aku merasa bahwa aku tak berdaya menjalani hidup…hampa tak “bernyawa”
Ada saatnya aku menumpahkan rasaku,,,ku tumpahkan smua disini, tuk sekedar mencari pelarian kecewaku,,kebingunganku,,sakit hatiku
Hanya Allah Maha Tau, sekuat apa ku bisa bertahan
Ada saatnya ………
Ada saatnya ……..
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.